Kita tahu bahwa kebanyakan manusia dalam menjalani hidup ingin mendapatkan perlakuan yang baik sesuai dengan apa yang diharapkannya. Pernahkah merasa kesal ketika niat baikmu malah disambut buruk oleh orang lain? Pernahkah merasa sedih ketika kebaikanmu tidak dihargai sama sekali? Ya, kadang hidup berjalan tak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Ada realitas yang harus kita terima meski itu pahit. Lantas ketika demikian, apakah kita harus berhenti menjadi orang baik bagi orang lain?
Pada dasarnya manusia tidak ingin dibenci ataupun mendapatkan penolakan dari orang lain. Malah bisa dibilang semua orang di dunia ini punya harapan demikian, kalau bisa semua suka pada kita dan tidak ada yang benci pada kita. Tetapi pada kenyataannya tidak, manusia di dunia ini begitu beragam maka cara kita memperlakukannya pun juga berbeda. Mungkin baik menurut kita, namun belum tentu baik menurut orang lain. Maka dari itu penting bagi kita untuk memahami orang lain agar apa yang kita lakukan dan kita berikan bisa diterima olehnya.
Mengutip salah satu nasihat dari Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi, ada tiga hal yang bisa kita lakukan untuk memperlakukan orang lain dengan baik.
Jika kita belum bisa memberikan manfaat, maka jangan merugikan
Terkadang sebagian manusia ada yang merasa belum memberikan manfaat, ada yang merasa tidak mampu memberikan manfaat atau merasa masih sedikit memberi manfaat dan lain sebagainya. Semua kembali pada pribadi masing-masing dalam menilai hal tersebut. Sebenarnya sangat sederhana ketika mencoba menjadi manusia yang bermanfaat.
Rumusyang disampaikan oleh Rasulullah SAW “Mulailah dari dirimu, kemudian kepada orang yang di bawah tanggung jawabmu” (H.R Ahmad dan Muslim). Dari potongan hadits tersebut kita tahu bahwa untuk menjadi manfaat bisa dimulai dari diri sendiri sebelum memberi manfaat untuk yang ada di bawah tanggung jawab kita atau orang lain.
Rasulullah dalam haditsnya yang di riwayatkan dari Jabir bersabda “sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya)”. Sampai sini sudah sangat jelas bahwa untuk untuk menjadi manusia yang baik adalah dengan menjadi mansia yang bermanfaat baik bagi dirinya sendiri ataupun orang lain. Dengan demikian kalaupun dengan langkah yang sangat sederhana masih merasa belum bisa memberikan manfaat, maka jangan memberikan kerugian kepada yang lain.
Jika kita belum bisa memberi kebahagiaan, maka jangan memberi kesedihan
Pada dasarnya bahagia adalah kumpulan dari perasaan senang, tenang, nyaman dan indah yang lahir dari hati dan pikiran. Sebagai makhluk perasa, bahagia bisa menjadi hal yang sangat berpengaruh dalam menentukan kondisi dan keadaan seorang manusia. Tak heran jika semua orang ingin bahagia seolah-olah kebahagiaan menjadi tujuan dari hidup mereka.
Abu Hurairah RA meriwayatkan, Nabi Muhammad SAW bersabda “Perbuatan paling baik ialah memasukan kebahagiaan kepada saudara yang mukmin dan muslim, atau engkau membayar utangnya, atau memberinya roti”. Sementara itu dengan kita memberikan kebahagiaan kepada orang lain merupakan salah satu cara meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Dan masih banyak lagi ganjaran yang akan didapatkan ketika kita bisa berbagi kebahagiaan kepada orang lain.
Kemudian sekalipun kita merasa belum mampu memberikan kebahagiaan kepada orang lain, maka sebisa mungkin jangan memberikan/membuat orang lain sedih atau menderita. Sebagai seorang muslim, sudah selayaknya kita menyadari bahwa perbuatan teersebut termasuk perbuatan yang salah yakni menyakiti hati orang lain.
Jika kita belum bisa memuji/menghargai, maka jangan mencela
Agama islam mengajarkan kita untuk menghormati dan memuliakan orang lain. Menghormati orang lain merupakan salah satu upaya untuk menghindahkan dan memuliakan diri sendiri. Bagaimana orang lain mau menghormati diri kita, jika kita tidak mau menghormati atau menghargainya. Cara menghargai orang lain pun berbeda-beda tergantung dalam keberagaman masing-masing. Sikap menghargai orang lain merupakan nilai manusia yang terbaik di dunia, tak ternilai harganya. Di manapun dan ke manapun kita berada, jika kita selalu bersikap menghormati dan menghargai orang lain, maka hati orang lain akan terbuka dan akan berbalik menghormati kita. Seperti dhawuh KH. Jalal Suyuthi, S.H. Pengasuh PP Wahid Hasyim Yogyakarta “menomersatukan Allah dan jadikanlah orang lain terhormat.”
Dari penjelasan di atas kita dapat menemukan beberapa kesimpulan, ketika kita ingin mendapatkan perlakuan yang baik dan diterima oleh orang lain, kita tidak hanya menuntut orang lain untuk selalu berbuat baik kepada kita, namun kita sendiri juga harus berusaha memenuhi kewajiban kita dengan memperlakukan baik pula orang tersebut. Untuk itu teruslah berbuat baik kepada orang lain, tanpa membedakan dari segi latar belakang seseorang.









