birrulummahtegalrejo.sch.id – (Kamis, 31/01/2024) Peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama (NU) ke- 101 Tahun, IPNU-IPPNU Komisariat Birrul Ummah selenggarakan kegiatan tasyakuran dengan melangitkan lantunan Sholawat Nabi bersama Ustadz Nasrul Chavin (Munsyid Ahbabul Mustofa Magelang) dan diiringi grup Rebana Asyikil Anwar.
Adapun tema yang diusung pada kegiatan ini ialah “Memacu Kinerja, Mengawal Kemenangan Indonesia” sesuai tema resmi yang di sampaikan oleh Wakil Ketua Umum PBNU, H. Amin Said Husni sebagai tema harlah NU tahun 2024. Dengan harapan untuk meningkatkan performa organisasi melalui konsolidasi, penguatan organisasi, jaringan dan menjadi bagian upaya mengawal kemenangan Indonesia Emas tahun 2045 (kutipan berita nu online 10/01/24).
Acara tasyakuran ini dibuka secara resmi oleh Bapak KH. Zaenul Habib, MA dan dilanjutkan dengan rangkaian acara mulai dari pembacaan ayat suci Al Qur’an dan tahlil serta pembacaan Maulid Dziba dan dilanjutkan dengan uraian hikmah yang disampaikan langsung oleh Ustadz Miftahul Huda untuk para santri Pondok pesantren Islam Nusantara. Kegiatan ini juga dihadiri oleh pengurus pondok, sekolah dan yayasan.
Sesepuh pondok, Bapak KH. Dimyati dalam sambutannya mengingatkan agar santri selalu siap menghadapi segala kesulitan, halangan serta tantangan yang ada, baik di pondok pesantren maupun ketika terjun di tengah-tengah masyarakat, agar kelak menjadi santri yang sukses. Karena apabila hanya menjadi santri yang malas malasan dan gampang menyerah hanya akan menjadikan kita sebagai pecundang di kemudian hari.
Sepanjang acara para santri sangat antusias penuh khidmah melantunkan qasidah dan sholawat Nabi. yang tak kalah menarik pada saat penyampaian uraian hikmah oleh Ustadz Miftahul Huda, karena di tengah nasihatnya beliau memberikan pertanyaan kepada para santri dengan iming-imingan uang sebagai hadiah bagi siapa saja yang berani menjawab pertanyaannya. Kemudian pesan yang di sampaikan oleh Ustadz Miftahul Huda, mengenai bagaimana peran santri dalam melestarikan sejarah dan tradisi-tradisi NU. Hal Ini didasari sebagaimana dawuh Hadratus Syeikh Simbah K.H. Hasyim Asy’ari yang mengatakan bahwa “Barangsiapa yang mau mengurus NU akan aku anggap sebagai santriku. Siapa yang menjadi santriku akan kudoakan khusnul khatimah beserta anak-cucunya”. Berdasarkan dawuh tersebut maka sudah menjadi kewajiban bagi para santri untuk menghidupkan semangat dan perjuangan NU baik di lingkungan pondok maupun lingkungan masyarakat dan lebih-lebih untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.









